Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Mekanisme Perlindungan Allah Terhadap Wanita yang di Poligami

poligami indah

Saat Allah membolehkan poligami bagi lelaki, pada saat yang sama Allah pun mewajibkan lelaki tersebut bersikap adil kepada para istrinya. Adil bukanlah syarat poligami, tapi kewajiban.

Syarat dan kewajiban adalah dua hal yang berbeda

Satu-satu nya syarat poligami bagi lelaki, adalah harus ada wanita yang mau, mau dijadikan istrinya yang kedua dst, kalau tidak ada yang mau tentu poligami tidak akan terlaksana.

Adil adalah kewajiban bagi laki-laki yang telah memilih jalan poligami. Jadi kalau dia sudah memilih poligami, maka dia wajib berlaku adil. Haram baginya berlaku dzalim.

Allah menggambarkan, kelak lelaki poligami yang dzalim akan datang kepada Allah dalam keadaan miring. Soal urusan haram-halal tentu berkaitan sama pahala dan siksa, surga-neraka dan ini bukan urusan enteng. Tapi berat!

Maka lelaki poligami wajib memperhatikan hal ini:

Lelaki wajib adil dalam aspek apa?

Dalam aspek yang bisa dihitung. Seperti nafkah, waktu bermalam dan hal lainnya yang bisa dihitung.

Maksud bisa dihitung itu, adalah sesuatu yang bisa dijumlah, dikurang  atau dibagi dan dikali.

Adil tidak harus sama rata, tapi sesuai kebutuhan. Nafkah misalnya, tentu nafkah bagi istri dengan 5 anak berbeda jumlahnya  dengan istri 1 anak. Menyamakan keduanya, malah bisa terkategori tidak adil.

Contoh pendekatan nafkah yang cukup logis adalah dihitung perkepala dan dipisahkan antara nafkah wajib (makan, pakaian) dengan nafkah non wajib (jajan kebutuhan sekunder)

Untuk nafkah wajib (makanan, pakaian) bisa dihitung perkepala.

Misalnya kebutuhan pokok perbulan 1 kepala 1.000.000

Maka nafkah wajib  istri dengan 5 anak
Adalah 7 x 1.000.000 = 7.000.000  
Nafkah wajib istri dengan 1 anak
Adalah 3 x 1.000.000 = 3.000.000

Ini hanya contoh pendekatan saja ya...

Nafkah berupa pendidikan anak menyesuaikan dengan kebutuhan real dikeluarkan untuk anak sekolah. Adapun nafkah non wajib itu adalah nafkah bila suami mendapatkan rezeki berlebih. Dibagi pada tiap istri sama rata.

Adapun bermalam, maka inipun bisa dihitung. Maka suami poligami wajib berlaku adil dalam urusan bermalam, jangan sepelekan hal ini.

Sebagian ulama berpendapat penghitungan waktu malam itu dihitung saat malam hari, bukan siang hari. Karna saat siang, biasanya suami disibukan dengan bekerja.

Diperbolehkan para suami berkunjung kepada istrinya yang lain disiang harinya, untuk sekedar mengetahui keadaannya. Lalu kembali pada malam hari kepada istri yang mendapatkan jatah giliran bermalam.

Pertimbangan jarak rumah antar istri harus juga menjadi hal yang harus diperhatikan. Waktu malam, adalah waktunya istirahat, ada banyak waktu dan banyak kesempatan untuk saling mencurahkan rasa. Istri bisa menceritakan segala hal yang terjadi saat suaminya tidak ada disisinya, sehingga dia akan merasa tentram. Hal ini adalah kebutuhan bagi istri. 

Tidak ada perbedaan anatara R1 R2 dst, karenanya pembagian bermalam adalah sesuatu yang harus dibagi adil antar para istri. Lelaki poligami wajib diperhatikan hal ini.

Seorang istri yang dipoligami juga bisa shadaqah hari kepada madunya. Hal ini pernah dicontohkan oleh Ummu salamah saat memberikan malamnya bagi Aisyah r.a untuk dihabiskan bersama Rasulullah.

Jadi bila ada salah satu istri yang ridha, waktunya digunakan istrinya yang lain maka itu tak menjadi masalah. Wajibnya adil bagi lelaki poligami dalam aspek yang bisa dihitung, sejatinya adalah bentuk perlindungan Allah kepada wanita yang dipoligami.

Istri tua tidak perlu kuatir, meski misalnya misalnya lho ya, alasan suaminya menikah lagi karena sudah tidak tertarik lagi kepadanya.

Istri muda juga tidak perlu kuatir, meski misalnya suaminya ternyata juga masih cinta pada istri pertamanya, atau bahkan terlihat makin cinta kepadanya.

Mau bagaimanapun kondisi perasaan suaminya terhadap istri-istrinya dia harus bersabar, tetap  bertanggung jawab terhadapnya, tetap menunaikan kewajiban atasnya dan berbuat baik kepada istrinya serta  mendidiknya.

Ini adalah cara Allah melindungi wanita yang dipoligami, Allah yang maha mengetahui, tahu persis tabiat dari lelaki, ujian terbesarnya adalah wanita.

Karenanya Allah membolehkannya memiliki lebih dari 1 istri, namun tidak membebaskan begitu saja. Allah melekatkan kewajiban adil kepadanya. Bagi wanita cinta suaminya memang hal utama, namun saat dipoligami mungkin cintanya berubah rasa. Dengan suami yang adil dan  tetap bertanggungjawab sudah cukup sebenarnya bagi wanita tersebut merasakan cinta!

Salah satu biang kerok tercorengnya poligami adalah perilaku suami, meski perilaku istripun juga tak kalah penting menyumbang tercorengnya nama baik poligami. Namun karena suami adalah pemimpin rumah tangga, maka pengaruhnya jadi jauh lebih signifikan.

Kerap dijumpai suami kurang bisa menegakkan keadilan.

Suami berat sebelah, dan kurang mampu memimpin. Terlihat cenderung kepada salah satu istrinya. Bila sudah begini, poligami yang sehat akan sulit tercapai.

Tidak dapat dipungkiri ketakutan kerap membayangi wanita.

Bagaimana bila kelak suaminya tak adil?
Bagaimana bila kelak dia cenderung kepada salah satu istrinya?
Bagaimana bila kelak suaminya tak mampu memimpin bahtera rumah tangga poligami?

Terlebih track record suaminya selama ini kurang baik misalnya. Tentu akan lebih menambah permasalahan
 
Bila taqdir poligami menyapa wanita, yang termudah yang bisa dilakukan wanita itu adalah berserah kepada Allah, dan ikhtiar maksimal mencari ilmu seputar poligami. Sekaligus berusaaha menambah keyakinan bahwa taqdir-Nya adalah yang terbaik, dan tak pernah keliru menyapa.

Ketakutan kehilangan hal duniawi (nafkah, kasih sayang suami) dapat dihilangkan saat wanita yakin bahwa semua itu adalah pemberianNya. Dialah yang memberikan kepada hambaNya. Bila keraguan masih ada, terlebih ragu terhadap kapasitas suami dalam berbuat adil, maka yakinlah bahwa Dia adalah hakim yang maha Adil dan sebaik-baik pelindung.

Ada kisah seorang wanita yang sangat mencintai suaminya, lalu dia dimadu, wanita tersebut memohon bantuanNya melalui lantunan doa.

"Ya Robbi, Engkaulah hakim yang maha adil, ampunilah bila suamiku tidak adil, dan bila kedzalimanya membuatmu murka, cukup balaslah dia secara tunai di dunia, jangan sampai kelak diakherat dia mendatangiMu dalam keadaan miring.  Limpahan kebaikan dan keberkahan kepadanya di dunia dan akhirat karena upayanya berlaku  adil. Itulah tanda cinta tulus hamba kepadanya, hamba mencintainya karenaMu"

Doa ini seharusnya sebuah cambuk bagi laki-laki untuk selalu adil kepada para istrinya. Doa yang harus ditakuti oleh lelaki berpoligami, doa istri yang terdzalimi.

Ketahuilah, Allah maha mengetahui dan maha melihat. Dia adalah hakim yang maha adil. Segala kedzaliman sekecil apapun akan Allah balas. Karenanya wahai para lelaki poligami, berbuat adilah karenaNya semaksimal yang engkau bisa, niscaya kemuliaan akan menjadi milikmu

Adapun dalam aspek yang tidak bisa dihitung. Misalnya tentang perasaan, dan kecenderungan hati,  maka tidak ada kewajiban bagi suami untuk bersikap adil. Namun lelaki yang baik akan menyembunyikan perasaan dan kecenderungannya.

Hanya dirinyalah dan Allah yang tau. Sementara istri-istrinya tidak seorangpun yang tahu. Ini merupakan cara Allah, agar para istri sibuk berlomba-lomba mempersembahkan yang terbaik bagi suaminya. Tampil cantik, service excellent, selalu bersabar, juga bersyukur dll.

Sebab perasaan dan kecenderungan hati suami terkadang berubah, sesuai perilaku istrinya kepadanya. Makin baik perilaku istri akan makin cenderung suami kepadanya.

Saat itu cantiknya wajah sudah bukan perkara yang utama. Cantik hatilah yang terpenting!

 
Wallahualam bishowab. 
 
- Dewi Rosmayanti -

Posting Komentar untuk "Mekanisme Perlindungan Allah Terhadap Wanita yang di Poligami"

Hosting Unlimited Indonesia

channel-telegram

Berlangganan via Email