Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

SAAT JANDA MENIKAH LAGI

dua-cincin

Mendengar kabar seorang teman yang menikah lagi setelah suaminya wafat satu tahun lalu, sungguh hati ikut bahagia. Apalagi mendengar cerita bagaimana ia mendapatkan jodohnya dengan cara yang unik.

Setelah berpikir panjang, bertanya pada Allah lewat doa-doa dan sholat, lalu yakin bahwa yang datang adalah laki-laki soleh yang menyayangi anak-anaknya seperti anak kandung sendiri, Masya Allah saya ikut berbunga-bunga. So happy for you, sister...

Menikah lagi setelah ditinggal wafat suami memang bukan hal yang mudah. Apalagi banyak pandangan di masyarakat seolah 'gimana gitu' kalo ada janda/duda menikah lagi setelah pasangan mereka meninggal. Seolah itu pengkhianatan bagi cinta mereka pada pasangan yang telah pergi. 

Padahal dalam Islam tidak ada larangan untuk menikah lagi bagi janda/duda jika masa iddah selesai (bagi wanita), tidak dalam kondisi hamil, dan yang datang adalah laki-laki sholeh yang bisa membimbingnya, alangkah lebih baik jika menikah lagi karena menyandang status janda sangat berat fitnahnya.

Bagi laki-laki malah lebih mudah lagi karena tidak ada masa iddah. Jadi jika laki-laki menikah lagi sehari setelah istrinya wafatpun, itu diperbolehkan. Bahkan saat istrinya masih segar bugar, tak masalah.

Tantangan membesarkan anak seorang diri juga sangat berat. Hampir semua single moms yang saya kenal mengakui bahwa dibalik sikap tegar yang mereka perlihatkan sebenarnya terselip kerapuhan mengelola emosi. Saat sedih teringat pasangan hidup yang pergi, kadang emosi jadi tidak terkontrol dan seringkali anak jadi pelampiasan.

Saya sendiri pernah ikut kajian ustadz Abu Haidar yang membahas tentang ini. Saat itu beliau ditanya oleh satu jamaah : "Ustadz saat ini saya janda dengan 2 anak. Suami saya meninggal satu tahun lalu dan baru saja ada laki-laki yang hendak melamar saya. Tapi saya masih belum bisa melupakan almarhum suami saya. Apa yang harus saya lakukan? Saya ingin bersama lagi dengan suami saya di surga nanti karena ada hadist bahwa istri adalah milik suaminya yang terakhir."

Ustadz menjawab : "Menikah itu sunnah, menggenapkan separuh agama. Dan menjadi orangtua tunggal itu berat. Jadi jika ada seorang laki-laki yang baik dan sholeh melamar, alangkah baiknya jika diterima agar bisa membimbing, melindungi, dan menemani dalam mendidik anak-anak ke depan."

Ustadz juga memaparkan : "Perkara nanti di surga akan menikah dengan siapa, itu hak Allah. Yang jelas, di surga tidak ada kesedihan. Semua orang di surga hanya merasakan bahagia. Jadi jangan menakar perasaan kita di dunia dengan apa yang akan kita jalani di surga. Lagipula cara meraih surga wanita itu salah satunya dengan berbakti pada suami. Jangan menutup kemungkinan masuk surga dengan menutup hati pada laki-laki lain. Jadi alangkah baiknya jika mempertimbangkan kembali lamaran seorang laki-laki sholeh yang serius ingin menikahi ibu."

Tentunya move on bagi perempuan yang ditinggal wafat suami bukan hal mudah. Semua orang punya prosesnya masing-masing. Kadang saking cintanya pada pasangan, diantara kita ada yang sampai berjanji atau bersumpah untuk tidak menikah lagi jika ditinggal pasangan terlebih dulu. Padahal ini tidak boleh. Jangan mendahului Allah dan jangan pernah menolak ketentuan Allah. 

Kisah Ummu Salamah mungkin bisa jadi teladan. Saking cintanya pada Abu Salamah, beliau sampai bersumpah tidak mau menikah lagi jika Abu Salamah meninggal terlebih dahulu. Tapi Abu Salamah malah melarang itu.

Kala itu, Ummu Salamah berkata kepada suaminya, “Aku telah mendengar bahwa seorang wanita yang suaminya tiada, dan suaminya itu termasuk ahli surga, kemudian dia tidak menikah lagi sepeninggalnya, Allah mengumpulkan mereka berdua di surga. Mari kita saling berjanji agar engkau tidak menikah lagi sepeninggalku dan aku tidak akan menikah lagi sepeninggalmu.”

Mendengar perkataan istrinya, Abu Salamah mengatakan, “Apakah engkau mau taat kepadaku?”

Kata Ummu Salamah, “Ya.” 

Abu Salamah berkata lagi, “Kalau aku kelak tiada, menikahlah! Ya Allah, berikan pada Ummu Salamah sepeninggalku nanti seseorang yang lebih baik dariku, yang tak akan membuatnya berduka dan tak akan menyakitinya.”

Dan Masya Allah, setelah Abu Salamah meninggal dalam perang, Ummu Salamah pernah menolak pinangan Abu Bakar dan Umar. Barulah ketika Rasullah meminangnya, Ummu Salamah tidak bisa menolak. Maka terkabullah doa Abu Salamah bahwa Ummu Salamah benar-benar dipertemukan dengan laki-laki yang lebih baik dari dirinya. 

Tidak ada yang terluput dari bagaimana Allah mengatur urusan setiap makhluk di dunia. Semua sudah punya takdir dan jalannya masing-masing. Tugas manusia adalah menjalani saja segala kewajiban dengan sebaik-baiknya, lalu berpasrah pada Allah. 

Semua kita berhak bahagia dan hanya kitalah yang bisa membentuk bahagia kita sendiri. 

Saya kutip sedikit dari teman saya : Kalau ingat  rahimahullah saya selalu meyakini bahwa ia sudah Allah berikan tempat terbaik, bisa jadi Allah juga sudah memberikannya bidadari, tugas kita di dunia hanya taat kepada Allah, memelihara anak-anak yatim kita dan menjadikannya anak-anak yang sholeh. Tidak perlu menakar rasa cinta ukuran manusia kita seperti di dunia, Allah lah yang telah mengatur segalanya, tugas kita hanya menjalaninya, taat dan taqwa.

Estining Pamungkas

Post a Comment for "SAAT JANDA MENIKAH LAGI"


channel-telegram

Berlangganan via Email