Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Pastikan Tujuan Sebelum Menempuh Jalan

poligamindah


Banyak orang berpikir, kalau rumah tangga itu yang didapat ketenangan (sakinah), cinta (mawaddah) dan sayang (rahmah). Faktanya tak sedikit yang rumah tangganya jadi prahara dan huru hara.

Apalagi rumah tangga poligami yang diawalinya dengan cara yang baik saja bisa kemudian terasa pahit, apalagi yang mulainya main sembunyi-sembunyi, sudah diperkirakan akan bisa menjadi rumit. Dari kerumitan yang dialami bahkan sampai berujung perpisahan.

Dan tidak jauh kasus perpisahan itu karena faktor ketidakadilan. Tidak adil karena sikap suami yang memang cenderung berat sebelah atau tidak adil karena ketidaksiapan salah satu istri, sehingga membelenggu suami. Karena tak adil maka tak nyaman. Bahkan bisa jadi memuncak menjadi konflik. Sehingga berujung pada perceraian.

Kasus cerai sesungguhnya hal yang lazim. Meskipun tidak ada individu yang sejak awal menikah menginginkan perceraian -kecuali syi'ah yang melegalkan mut'ah-. Cerai itu bahkan menjadi bentuk pembinaan dari Allah kepada siapa yang mengalami. Sebagaimana musibah yang Allah timpakan kepada siapa pun ada hikmah di balik itu.

Masalahnya yang sudah sering terjadi, kita sulit mengambil hikmah di balik peristiwa yang kita alami. Tidak sedikit mereka yang mengalami kegagalan dalam rumah tangga malas mengambil hikmah untuk memperbaiki diri. Bahkan seringnya mereka mengungkap dan terus mengungkit kejelekan pasangannya dulu.

Bahkan mereka yang dulunya sangat pro poligami jadi seperti amnesia. Dulunya sering mengusung tema2 yang memuliakan poligami, bahkan kini menjadi alergi ketika ada tema poligami melintas. Jadi seperti anak kecil yang trauma makan sambel.

Padahal Allah baru saja memberikan banyak hikmah yang seharusnya bisa menjadi bekalnya ke depan agar bisa bersikap lebih bijak. Namun tidak jarang justru berbalik nyinyir, mencibir dan menyinggung para praktisi seperti menilai amal yang mereka lakukan. Tapi dia sendiri lupa, apakah yang dia lakukan saat ini sudah lebih baik dibandingkan amal sebelumnya?

Ketahuilah, sesungguhnya perilaku seperti itu tidak lain seperti sikap orang kafir yang berislam kemudian kafir lagi. Karena ketidakikhlasan dalam beramal akhirnya kecewa karena tidak mendapatkan apa yang dituju. Yaaahh.. Mungkin semata-mata kenyamanan yang dituju, bukan ridho Allah.

Kalau yang dituju adalah ridho Allah, seharusnya dia sadar bahwa susah maupun senang harus diterima dengan lapang dada. Karena itu semua adalah skenario Allah. Dan bisa mengambil semua yang dialami dengan cara pandang yang positif. Padahal Allah menggugurkan dosa-dosa orang yang menerima dan sabar menjalani ujian.

Jadi pastikan lagi tujuan sebelum menempuh jalan..!!!

Sangat disayangkan dosa-dosa yang seharusnya sudah berguguran itu kemudian menempel lagi dan menjadi beban yang harus dipertanggungjawabkan di yaumil akhir nanti. Akhirnya capek yang dia dapat tidak bisa mebersihkan dosa-dosanya. Koreng yang seharusnya sembuh, justru semakin terkuak bahkan bisa jadi semakin membesar dan membuat orang jijik melihatnya.

Na'udzubillah...

Ringgo Novianto

Post a Comment for "Pastikan Tujuan Sebelum Menempuh Jalan"


channel-telegram

Berlangganan via Email