Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Roaller Coaster Kehidupan Berpoligami

Roaller-coaster


"Mba...kelihatannya Rumah Tangga Ta'adud (RTT) mba adem ayem rukun dan ngga pernah ada konflik ya?" tanya beberapa orang melalui messanger dan wapri.

Saya jadi senyum sendiri. Yakinlah 100% mana ada rumah tangga lempeng, adem ayem sama sekali tanpa konflik. Bohong kalau menjalani RTT tanpa deraian air mata serukun dan sesyar'i apapun prosesnya.

Tapiiiiiii.........
Sungguh RTT itu memberi kesan mendalam, bisa menjadi madrasah yang mentarbiyah suami dan para istri untuk lebih tangguh dan berkualitas. Tapi ada syarat dan ketentuan berlaku ya...

Jadi gini. Ibaratnya monogami itu kereta kelinci. Poligami itu roller coaster. Kereta kelinci memang relatif anteng lempeng dan aman. Untuk anak-anak kecil sangat cocok. Tapi bagi anak yang sudah menginjak dewasa, kereta kelinci itu tiada memberi kesan mendalam. Dan jangan salah, banyak juga lho kereta kelinci yang tampaknya aman tapi ternyata tertabrak mobil, masuk jurang dll. Biasanya karena ada yang dilanggar. Misal melebihi kapasitas penumpang atau menggunakan jalan raya yang ramai lalu lintas.

Beda dengan roller coaster. Memang bikin jejeritan, malah ada yang sampai mual muntah. Tapi sangaaaat berkesan. Banyak yang sangat senang dan terkenang-kenang setelahnya. Tapi tidak bagi mereka yang jantungan, atau anak di bawah umur. Itu justru horor!

Jadi, ukur diri. Mampukah suami dan istri untuk ta'adud? Jika khawatir tidak mampu adil, sebaiknya jangan coba-coba. Karena konsekuensinya berat dunia maupun akhirat.

Tapi jika suami secara adab, ilmu, kemampuan fisik dan finansial mampu untuk adil, silahkan. Apalagi jika istri mendukung penuh, in syaa Allah banyak pertolongan Allah. Barokah...

Konflik itu pasti ada. Ibarat naik kapal di atas samudra, ada kalanya menghadapi badai, ombak atau gelombang yang besar. Dan tugas kita adalah menghadapi konflik itu dengan sabar, tetap berjuang penuh keikhlasan, penuh kesyukuran dan doa serta menjadikan setiap masalah menjadi ibrah, hikmah dan pelajaran yang mampu semakin mendewasakan diri. Tawakal apapun takdir yang Allah pilihkan untuk kita.

Poligami bukan tempat pelarian dari masalah yang tidak tertuntaskan dalam pernikahan monogami. Rasulullah menikah lagi setelah beristrikan Aisyah bukan karena Rasul ada konflik yang tak tuntas dengan Aisyah. Justru karena rumah tangga rasul sakinah mawaddah wa rahmah dan rasul terbukti teruji sebagai qowwam yang baik, maka sangat disarankan Rasul menikah lagi. Begitu pula sahabat-sahabatnya. Karena poligami rasul dan para sahabat adalah poligami yang banyak membawa maslakhat bukan hanya bagi keluarganya tapi juga umat secara luas.

Berbeda dengan oknum yang poligami tersebab ketidakberdayaannya menghadapi konflik dengan istri pada rumah tangga sebelumnya. Alih-alih memberi maslakhat, kebanyakan justru menciptakan banyak mudhorot, dzolim dan justru merusak citra baik syariat poligami yang mulia.

Na'udzubillah...

Untuk itu, kedepankan adab sebelum ilmu dan ilmu sebelum amal. Dan setelah beramal dakwahkanlah agar umat tahu, poligami yang sesuai syariat itu indah, bahagia, penuh hikmah dan memberi kemaslakhatan pada umat. Tak seseram yang terus menerus ditayangkan oleh media mainstream anti syariat Islam.

Percayalah...syariat Allah tak mungkin dzolim. Jika ada kasus kedzoliman, itu 100% karena oknum manusianya.


Estining Pamungkas
Praktisi Poligami

Posting Komentar untuk "Roaller Coaster Kehidupan Berpoligami"


channel-telegram